karakter Cissia Dari Zenless Zone Zero Bisa nyep*ng Lebih Sempit Dan Nikmat

 

 “Apakah Cissia punya bibir yang paling lembut karena produksi Saliva yang lebih tinggi dari agen lain?”



Jawaban singkatnya, Tidak.

Jawaban panjangnya, Saliva tidak memengaruhi lembut atau tidaknya bibir. Saliva yang banyak itu adalah urusan dalam mulut. Fungsi utamanya membasahi rongga mulut, membantu menelan makanan, dan membantu menjaga kebersihan rongga mulut.



Di lain sisi, bibir lembut itu urusan luar mulut. Lembut atau tidaknya bibir dipengaruhi oleh kelembapan kulit bibir, dehidrasi, cuaca atau suhu serta yang krusial adalah kebiasaan menjilat bibir.

Berdasarkan “Cleveland Clinic – Lip Linker’s Dermatitis”, Saliva mengandung enzim pencernaan, Amilase dan Maltase. Ketika bibir terkena enzim ini, bibir bukannya makin lembut tapi malah iritasi, sebab fungsi enzim dalam liur memang untuk memecah makanan. Jadi saat air liur menguap, bibir malah jadi makin kering dan pecah-pecah.



Namun, hal ini perlu pertimbangan lebih lanjut. Misalnya perlu dipertanyakan identitas Cissia sebagai setengah ular, apakah ada pengaruhnya tidak dengan fungsi tubuhnya. Karena itu, mari kita bahas lebih dalam.

Pada dasarnya, setengah manusia di ZZZ terbagi menjadi dua, yaitu Thiren yang dominan gen manusia dan Thiren yang dominan gen non-manusia.

Nah, pertanyaannya, Cissia ini Thiren yang mana?

Secara fisik, sekilas bisa dilihat Cissia hampir tidak ada bedanya dengan manusia, namun ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, yaitu:

• Fleksibilitas. Meski secara visual Cissia terlihat amat mirip dengan manusia, tapi kemampuannya dalam bergerak sangat fleksibel. Dapat di lihat dari animasi pertarungannya, Cissia seolah ular sungguhan yang mampu bergerak melata, merayap bahkan meliuk-liuk. Dia benar-benar menghianati wujud fisik manusianya.

• Kemampuan Sensorik : Termoreseptor. Selayaknya ular sungguhan, Cissia sepertinya sangat sensitif dengan suhu tinggi tapi seolah tidak bermasalah menghadapi suhu rendah. Di Event bisa kita lihat Cissia sangat menolak makan hot pot bersama. Dan ketika pada akhirnya ia memutuskan untuk ikut makan, kondisi Cissia malah terlihat sangat memprihatinkan.

• Bagian Tubuh Tambahan. Seperti yang sudah disebutkan, secara visual, Cissia terlihat hampir seperti manusia, tapi jika diperhatikan dia punya ekor yang secara fungsi, bisa Cissia gunakan untuk mengatur atau mendukung mobilitasnya. Bukan hanya ekor, Cissia juga punya taring yang lebih menonjol dibandingkan manusia normal, bahkan Pupil dan Iris di matanya seolah ular sungguhan.

Kalau memperhitungkan hal ini, bisa jadi fungsi liur Cissia berbeda dengan pure manusia. Namun, perlu diketahui, bahwa, pada dasarkan liur manusia dan ular, memiliki fungsi utama yang sama.

Dalam "World Health Organization (WHO) - Guidelines for the Management of Snakebites". Terdapat dokumen yang menjelaskan komposisi bisa ular yang didominasi oleh enzim pencernaan yang sangat aktif.

Lalu, berlandas referensi standar studi reptil, buku teks akademik, "Herpetology" oleh F. Harvey Pough, dkk. Sistem pencernaan ular punya keterkaitan antara kelenjar ludah dan kelenjar bisa.



Intinya, jika mengabaikan "Venom" dalam liur ular, maka air liur manusia dan ular hampir tidak berbeda. Jadi meski memperhitungkan sisi non-manusia Cissia, tetap saja bibirnya Cissia tidak akan jadi lembut hanya karena produksi Salivanya lebih tinggi.

Meski pada akhirnya terdengar buruk, tapi tentanglah wahai anak muda. Karena meskipun bibir Cissia tidak lembut karena produksi liurnya, tapi tetap bisa dijaga dengan pelembab bibir dan faktor eksternal lain.

Selain itu, bagi yang berminat untuk hidup bersama Cissia, sebenarnya aku punya berita yang gembira. Singkatnya .... Jangan takut untuk berhubungan dengan Cissia meski dia setengah ular.

Mungkin ada beberapa yang berpikir bahwa menikahi Cissia akan seperti sedikit berdiri di samping jurang karena identitasnya sebagai Thiren ular. Terlebih, sesuai yang sudah disebutkan di atas, Cissia punya kemiripan sangat tinggi dengan ular meski sekilas tubuhnya seperti manusia. Namun, sekali lagi, kalian tidak perlu takut, karena meski banyak ciri yang menonjolkan sisi ularnya Cissia, tapi bagian manusianya juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Berikut beberapa poin yang bisa menjadi angin segar agar tidak perlu khawatir tentang sisi ular Cissia.

• Memiliki Pusar. Kelihatannya sepele, tapi justru inilah penentu keturunan kalian nanti. Dengan memiliki pusar, maka dapat dipastikan Cissia dilahir dari rahim seorang ibu (paling tidak, tidak ada indikasi Cissia adalah manusia buatan. Terlebih ia punya masa kecil, hampir pasti dia ini di lahirkan oleh seseorang). Memang Cissia punya taring, juga punya ekor, mobilitasnya juga tampak tidak masuk akal, lantas memangnya kenapa? Dengan dia lahir dari rahim sebagaimana manusia pada umumnya, hampir pasti gen manusia jauh lebih dominan dari pada gen ularnya. Jadi kalian tidak perlu khawatir anak kalian nantinya akan seperti apa, paling jauh hanya mirip seperti ibunya. Kalian juga tidak perlu sejauh itu berpikir, “apakah anakku dan Cissia nanti akan lahir dan menetas dari telur”.

• Ketiadaan Venom atau Venom yang Melemah pada Liur Cissia. Ini bagian yang mungkin paling krusial buat sebagian orang, sebab akan sangat sulit berhubungan dengan Cissia, jika sewaktu-waktu, bisa saja mati atau tidak sadarkan diri akibat tidak sengaja tersuntik bisa Cissia. Namun tidak perlu khawatir sebab hal seperti itu hampir tidak akan terjadi. Berikut sebabnya:


1. Faktor Evolusi

Bersumber dari, "Khan Academy / National Geographic - Evolution by Natural Selection". Makhluk hidup berevolusi dan mengembangkan bagian tertentu dalam dirinya jika bagian itu menguntungkan atau dibutuhkan dalam bertahan hidup. Sebaliknya, jika ada bagian yang tidak dibutuhkan, akan dibuang atau perlahan berubah menjadi bentuk atau sifat lain. Contohnya struktur gigi manusia yang berubah sebab makanan yang lunak.

Lalu, ada juga yang bersumber dari, "Uc Berkeley - Undertanding Evolution", dalam materi berjudul, "Vestigal Structures". Makhluk hidup itu punya yang namanya "Organ Vestigal" atau sisa struktur yang sudah tidak dipakai. Simpelnya, ini adalah organ yang dahulu ada namun perlahan menghilang atau bahkan sudah tidak ada lagi karena tidak bermanfaat.

Terakhir dari Jurnal, "Royal Society Open Science" dalam judul, "The Evolution of the Giraffe's Neck". Dijelaskan bahwa leher jerapa mengalami perubahan atau evolusi sebab seleksi untuk menggapai makanan (daun yang yabg tinggi) serta faktor kompetisi dengan pejantan lain, karena yang lehernya lebih pendek biasanya kalah saing lalu the end.

Berdasarkan jurnal dan sumber yang tertera, dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup itu bisa meniadakan atau menambahkan sifat tertentu dalam dirinya demi bertahan hidup. Nah, dalam kasus Cissia yang merupakan Thiren ular, leluhurnya pasti sudah berevolusi sedemikian rupa agar dapat hidup berdampingan dengan manusia. Yang mana hal ini secara langsung meniadakan komposisi Venom dalam liur Cissia. Atau paling tidak, menghilangkan zat berbahaya seperti Neurotoksin, Hemotoksin, Sitotoksin, Kardiotoksin. Yang paling mungkin adalah, Venom dalam liur Cissia punya rasio sangat rendah, setidaknya tidak cukup bahkan hanya untuk sekadar membuat tangan gatal atau bengkak, apa lagi pingsan. Atau yang lebih realistis adalah, komposisi dalam bisa Cissia sepenuhnya tidak berbahaya untuk manusia seperti bisa ular siput.


2. Faktor Pencernaan

Berdasarkan jurnal, “Comparative Biochemistry and Physiology Part A” dalam materi berjudul, “ Standard Metabolic Rate of Snakes is Extremely Low”. Laju metabolisme ular sekitar 75-90% lebih lambat dari reptil lain yang seukuran. Karena itu ular tidak perlu sering makan.

Dalam Artikel berjudul, “Why Snakes Don’t Need to Eat Every Day” bersumber dari, “Smithsonian’s National Zoo & Conservation Biology Institute”. Dijelaskan bahwa ular punya intensitas makan yang sangat rendah, paling cepat 1-2 minggu sekali. Bahkan spesies Python & Boa besar bisa tidak perlu makan selama 6-12 bulan setelah sekali mangsa.

Berdasarkan penjelasan serta sumber sebelumnya, jelas sekali Cissia ini Thiren yang dominannya manusia. Yah, dia banyak makan, bahkan sepertinya lebih banyak ngemil dibandingkan rata-rata kita.


3. Tidak Adanya Korban (Subjective Arguments)

Karena ini argumen subjektif, jadi singkat saja. Tidak ada kasus apa pun yang terkait dengan Cissia dalam perihal Venom. Setidaknya aku tidak menemukan ada orang atau hewan yang entah bagaimana tersuntik liur Cissia lalu mati, cacat atau terdapat padanya indikasi negatif apa pun akibat Venom. Bahkan saat story Cissia itu sendiri, ia tidak pernah diceritakan mempertahankan diri menggunakan taringnya. Artinya sangat mungkin Cissia tidak punya bisa atau racun pada liurnya. Selain itu, Cissia juga tidak dijelaskan mengalami pergantian kulit, hal ini menegaskan argumen subjektif ini, bahwa Cissia lebih dominan manusia dan aman untuk dinikahi.

Kesimpulannya :

•Produksi berlebih pada Saliva Cissia tidak menjadikan bibirnya sangat lembut dibandingkan agen lain.

•Meski punya sifat dan genetik yang tampak seperti ular, Cissia sangat dominan di sisi manusia.

•Cissia aman untuk dinikahi. Tidak ada racun atau bisa yang sewaktu-waktu dapat secara tidak sengaja tersuntik pada kalian.

•Meskipun Cissia berbisa, dapat dipastikan bisanya tidak akan berpengaruh ke tubuh manusia sama halnya bisa ular siput.

Jika kalian masih merasa tidak aman dengan potensi Venom pada Cissia sebab taring yang Cissia miliki, maka kalian perlu melihat betapa banyak liur yang keluar dari mulut Cissia hanya karena melihat makanan kemasan, cemilan atau puding telur.

Perlu diketahui bahwa ular sangat tidak mungkin merespon makanan semacam ini, apa lagi menstimulasi dirinya sendiri untuk merasa "ingin" makan makan seperti ini. Sinyal syaraf otaknya sudah pasti 100% manusia karena liurnya terstimulasi karbohidrat dan gula. Jadi balik lagi ke faktor evolusi yang sebelumnya telah dijelaskan.

Tambahan : Jika kalian alergi protein, maka kusarankan jangan menikahi Cissia. Karena meski Cissia tidak berbisa atau bisanya tidak berbahaya untuk manusia, tapi hampir semua bisa punya protein dalam komposisinya.


Sumber : Facebook Grup Post

Posting Komentar

0 Komentar